• BREAKING NEWS
  • REAL MADRID JUARA COPA DEL REY USAI TAKLUKKAN BARCELONA 2-1BREAKING NEWS
  • HANURA BATAL USUNG WIN-HTBREAKING NEWS
  • EMIR MOEIS DIVONIS 3 TAHUN PENJARABREAKING NEWS
  • PKS UTAMAKAN KOALISI DENGAN PARTAI ISLAMBREAKING NEWS
  • KPK: ANAS URBANINGRUM TERANCAM HUKUMAN BERATBREAKING NEWS
  • DISDIK DKI: UN DI JAKARTA SUDAH SIAP 100%BREAKING NEWS
  • KPK PERIKSA PETINGGI TV ONE DAN ANGGOTA POLRI TERKAIT KASUS ANASBREAKING NEWS
  • RANO KARNO DISEBUT TERIMA RP 2 MILIAR DARI WAWANBREAKING NEWS
  • PEMPROV DKI TARGETKAN SUNGAI BEBAS SAMPAH TAHUN 2015BREAKING NEWS
  • PANWASLU DESAK KPU SEGERA PUBLIKASIKAN PELANGGAR KAMPANYEBREAKING NEWS
  • KM 90 MACET TOTAL TANPA PENGAWASAN PIHAK YANG TERKAIT SEJAK KAMIS 27/08/14BREAKING NEWS
  • KM 90 TOL CIPULARANG KEMBALI AMBRUK SATU TRUK KONTAINER AMBLAS DI BAHU JALANBREAKING NEWS
  • BOEDIONO MASUK DAFTAR TERDAKWA SAKSI CENTURYBREAKING NEWS
  • BAYERN MUNCHEN JUARA BUNDESLIGABREAKING NEWS
  • WIRANTO KLAIM HANURA BERSIH DARI KORUPSIBREAKING NEWS
  • PRABOWO SUBIANTO OPTIMIS JADI PRESIDENBREAKING NEWS
  • 20 TENTARA YAMAN TEWAS DALAM SERANGAN AL-QAEDABREAKING NEWS
  • TURKI BLOKIR AKSES JEJARING SOSIAL TWITTERBREAKING NEWS
  • PKS: KUALITAS SBY LEBIH BAIK DARI JOKOWIBREAKING NEWS
  • PDIP JATIM RESTUI RISMA GANTIKAN JOKOWI DI JAKARTABREAKING NEWS
HOME  »  TIMUR-TENGAH  »  SIYASAH

Selasa, 15 Maret 2011 14:27 WIB

Pertempuran Syiah Vs Sunni

  • Views: 1,633
  • Komentar:
Pertempuran Syiah Vs Sunni

Jakarta - Sekitar seribu personel pasukan khusus Arab Saudi beserta 500 polisi Uni Emirat Arab, telah memasuki Bahrain Senin (14/3) kemarin,

Runtuhnya rezim pemerintahan di Tunisia dan Mesir, membuka kotak pandora bagi semua rezim berkuasa di dunia Arab, tak terkecuali di Bahrain.

Beberapa alasan menjadi dasar bagi Arab Saudi dan Uni Emirat Arab untuk memasuki Bahrain, antara lain karena permintaan pemerintah Bahrain sendiri agar Saudi beserta para negara yang tergabung dalam Dewan Kerjasama Negara Teluk (GCC), melakukan "intervensi militer" ke negara itu, untuk membantu "meredakan ketegangan."

Selain itu, alasan lain adalah untuk membantu memulihkan ketertiban di kerajaan Teluk itu, karena ribuan demonstran, sebagian besar warga Syiah, menduduki distrik bisnis di ibukota Manama, hingga dikhawatirkan dapat mengganggu pondasi perekonomian negara.

Alasan ingin melindungi fasilitas pemerintah, seperti tempat pasokan air dan listrik, juga menjadi dasar bagi Saudi untuk mengirimkan pasukan.

Tetapi Arab Saudi yang menjadi salah satu pilar dalam GCC nampaknya  tidak dapat membiarkan jatuhnya kekuasaan pemerintahan berbasis Sunni di Bahrain.

Karena bila pemerintah jatuh, maka ancaman Syiah sudah di depan mata. Bahrain bakal menjadi negara Syiah dan otomatis akan menjadi menjadi sekutu  Iran, sehingga menjadi ancaman bagi Arab Saudi. Kelompok Syiah akan menjadi sebuah kekuatan politik baru dan kejatuhan Bahrain akan mempunyai "efek domino" bagi Qatar, Kuwait, Emirat, Oman yang dikhawatirkan akan jatuh ke tangan Syiah.

Kemampuan Saudi yang telah mengirimkan pasukan ke Bahrain, sangat diuji. Apakah akan mampu meredam kekuatan kelompok Syiah yang terus merangsek ke tampuk kekuasaan.

Langkah Arab Saudi bukan hanya mengirimkan pasukan, tetapi juga menggelontorkan uang dalam jumlah yang besar kepada rakyat di mana berlangsung aksi protes. Seperti kepada Oman, Arab Saudi menggelontorkan uang dalam jumlah yang sangat besar dengan tujuan menghentikan gerakan rakyat.

Revolusi di Bahrain "agak berbeda" dengan Tunisia, Mesir dan Libya. Gerakannya lebih disebabkan faktor sektarian, yaitu gesekan horisontal antara warga Syiah dan Sunni. Pemerintahan dikuasai oleh kaum Sunni walaupun lebih dari 70 persen warga Bahrain merupakan kaum Syiah.

Amerika Serikat juga amat berkepentingan terhadap stabilitas di Bahrain, karena markas Armada Angkatan Laut Ke-5 milik Paman Sam, bermarkas di negara itu, yang berfungsi sebagai penyeimbang kekuatan militer di Timur Tengah.

Walaupun pihak AS pernah mengecam tindakan keras pemerintah Bahrain terhadap para demonstran yang didominasi warga Syiah, nampaknya itu hanya sekedar "lips service" belaka, supaya status pendekar demokrasi dunia yang disandangnya tidak dilecehkan hanya karena tidak merespon perubahan demokrasi di suatu negara.

Apalagi Saudi merupakan sekutu teramat penting bagi AS paska tergulingnya rezim Mubarak di Mesir. Bukan mustahil pemerintahan Obama juga "mendukung di balik layar" atas pengiriman pasukan Saudi ke Bahrain.

Di satu sisi, Iran merupakan musuh utama AS di Timur Tengah, bahkan di dunia. Untuk mematahkan pengaruh Syiah Iran yang mulai menggeliat, Paman Sam menggunakan tangan Saudi sehingga tidak nampak melakukan campur tangan dalam urusan dalam negeri Bahrain.

Bahrain kini bagaikan pelanduk di tengah pertarungan dua gajah. Saudi dengan dukungan AS di satu sisi, serta Iran di sisi lainnya. Hipotesa yang menyatakan, kekuatan rakyat (people power) dapat menggulingkan pemerintahan terkuat sekalipun, akan kembali di uji di ranah Bahrain. (*/dar)










QR Code

Scan untuk membuka halaman ini di smartphone Anda

QR Code

Video

Advertisement