Advertisement

Kekerasan Menghantui TKI di Arab Saudi

  • Komentar:
  • View: 2573
Kekerasan Menghantui TKI di Arab Saudi
Jakarta - Satu persatu tenaga kerja Indonesia mulai mengalami kekerasan di Arab Saudi. Dari Sumiati wanita asal Dompu, NTB yang disiksa majikannya di Madinah, Arab Saudi. Sampai Kikim Komalasari, wanita asal Cianjur yang ditemukan tewas di tempah sampah.

Arab Saudi sepertinya menjadi ladang subur kekerasan bagi tenaga kerja asal Indonesia. Kondisi ini tentu saja kontras dengan pernyataan Duta Besar Arab Saudi Abdurrahman Muhammad Amen Alkhayat.

Dalam keterangan persnya kemarin, Kamis (18/11), Abdurrahman menyebut kasus Sumiati adalah kasus yang jarang terjadi di negaranya. Padahal, hampir setiap hari kekerasan terhadap TKI kerap terjadi.

Data Migrant Care menyebutkan ada sekitar 5.563 pekerja rumah tangga yang bermasalah di Saudi. Rinciannya, sebagai 1.097 menjadi korban penganiayaan, 3.568 orang sakit akibat situasi kerja tidak layak, dan 898 orang korban kekerasan seksual dan tidak digaji.

Yang paling mengejutkan setelah pernyataan Abdurrahman, pada Kamis (18/11) malam sekitar pukul 22.30 Wib. Migrant CARE memperoleh informasi jika Kikim Komalasari binti Uko Marta (No Pasport AN 010821), pekerja rumah tangga asal Cianjur, Jawa Barat meninggal dunia. Kikim meninggal akibat disiksa, diperkosa dan jenazahnya dibuang di tempat sampah.

Kisah inilah yang membuat kesal Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa sehingga ia harus memanggil kembali Dubes Arab Saudi Abdurrahman Muhammad Amen Alkhayat.

"Bahkan hari ini kita akan panggil sekali lagi Dubes Arab Saudi tapi bukan hanya masalah Sumiati melainkan kasus yang baru terungkap tadi malam. Yang menyangkut tewasnya seorang TKI Kikim Komalasari yang sedang kita cari informasi dan data-datanya," ujarnya.

Semenjak kasus Sumiati muncul di publik. Sudah dua kali, sang menteri memanggil Abdurrahman. Dan ini merupakan pemanggilan yang ketiga kalinya. "Kami sudah 2 kali memanggil Dubes Arab Saudi dan sudah 2 kali menyurati Menlu Arab soal yang sama," terangnya.

Pemerintah sebetulnya bukan tak mencari jalan keluar. Setelah tragedi Sumiati, SBY langsung menawarkan sebuah handphone untuk memudahkan pelaporan TKI jika mendapat perlakuan yang tidak wajar.

Namun, sekali lagi fasilitas HP bagi para TKI tidaklah cukup. Yang dibutuhkan saat ini adalah penyelesaian yang tegas dari pemerintah Indonesia. Sebab, kasus ini sudah bekali-kali terjadi.

"Diberi pernyataan yang keras. Coba tegakkan hukum. Kalau (Arab Saudi) mau bersahabat," ungkap mantan Ketua PP Muhammadiyah Syafie Maarif.

Terlebih, TKI berjasa besar terhadap negara. Mereka menyumbang triliunan devisa. Itu sebabnya, pemerintah seharusnya menghargai dan memperlakukan tenaga kerja di luar negeri dengan baik. "Seperti negara gak punya pemimpin. Ada pemerintah tapi gak punya pemimpin," ujarnya.

Jadi kekerasan yang menimpa para TKI di Arab Saudi sebenarnya masih jauh dari perbaikan. Slogan TKI adalah pahlawan devisa hanyalah pemanis bibir saja kepada mereka yang bertarung untuk bekerja di luar negeri.

Padahal, pemerintah Indonesia terbukti sering kali lalai melindungi hak pekerja asal Indonesia ini untuk berbagai hak dasar, seperti perlindungan hukum, hak untuk bebas dari kekerasan, dan juga hak untuk berorganisasi. Tak mengherankan jika di masa mendatang, kita akan masih melihat letupan-letupan yang terjadi terhadap para TKI kita. (lik)
Advertisement
Advertisement
PENDUKUNG PRABOWO BAKU HANTAM DENGAN APARAT
BREAKING NEWS
BUPATI DIBENTAK KELUAR SAAT PERHITUNGAN SUARA PAPUA
BREAKING NEWS
NOMOR URUT 1 DIPAKSA MENGILANGKAN SUARA HINGGA 0 % DI PAPUA
BREAKING NEWS
PARA SAKSI KPU WILAYAH PAPUA DIANCAM SAAT PERHITUNGAN SUARA
BREAKING NEWS
KOTAK HITAM MH17 AKHIRNYA DIKETEMUKAN
BREAKING NEWS
MIROSLAV KLOSE PENSIUN TAHUN 2015
BREAKING NEWS
GEMPA 5,3 SR GUNCANG SULAWESI TENGGARA
BREAKING NEWS
JERMAN JUARA PIALA DUNIA 2014
BREAKING NEWS
PRABOWO-HATTA UNGUL ATAS JOKOWI DI LUAR NEGERI
BREAKING NEWS
TRUK BERMUATAN MIRAS TERBALIK DI TOL CIKAMPEK
BREAKING NEWS